Melihat Tradisi Ciswak saat Cap Go Meh

Warga Tionghoa merayakan Cap gomeh. Dalam perayaan ini, ada juga sejumlah warg ayang mengikuti tradisi Ciswak atau tolak bala untuk membuang sial

Singaraja, koranbuleleng.com| Umat Tri Dharma di Klenteng Ling Gwan Kiong secara khusuk menjalani tradisi Cap Go Meh, Sabtu, 8 Februari 2020. Sesuai tradisi warga Tionghoa, Cap Go Meh adalah hari ke-15 dari rangkaian tahun baru Imlek. Disana, warga jug abanyak yang menjalani tradisi Ciswak, atau tradisi tolak bala agar dijauhkan dari kesialan.

Pada umumnya, warga di Bumi mempercayai roda kehidupan aan terus berganti. Baik dan buruk, Beruntung dan Kesialan akan bisa datang silih berganti. Bagi warga Tionghoa, Perayaan Cap go Mehini menjadi salah satu hari baik untuk membuang sial dengan menjalani tradisi ciswak itu. 

Di tahun tikus ini, warga Tionghoa meyakini ada empat Shio yang diramalkan akan mengalami sial atau ciong atau bentrok dengan perhitungan feng sui sepanjang tahun ini. Yang diramalkan mengalami ciong besar adalah shio tikus dan kuda, sedangkan ciong kecil adalah shio kelinci dan ayam. Empat warga yang memiliki shio itulah yang disarankan untuk menjalankan tradisi Ciswak untuk menolak rasa sial. Namun diluar shio itu, bagi yang ingin melakukan Ciswa juga diperbolehkan.

Tradisi ini diawali dengan melaksanakan persembahyangan di dalam Klenteng Ling Gwan Kiong. Sejumlah rohaniawan yang berjubah kuning secara khusus mendampingi mereka yang mengikuti ritual Ciswak. Saat prosesi upacara, di dalam Klenteng, nama-nama mereka serta shionya dibacakan satu persatu, lalu Rohaniwan membacakan mantra-mantra berbahasa Tionghoa.

Setelah persembahyangan, mereka lalu menuju halaman Klenteng untuk diperciki dengan tirta atau air suci. Udai itu, masing-masing memotong bagian rambutnya yang disimpan dalam sebuah amplop angpao berwarna merah. Barulah setelah itu masing-masing ada yang membuang atau melempar kacang ke belakang sambil berjalan mengelilingi halaman Klenteng.

Ritual tradisi Ciswak kemudian ditutup dengan melepaskan bitang. Biasanya jenis binatang yang dilepas adalah Tukik, ataupun burung. Pun demikian, ritual ini bukan merupakan suatu yang wajib dilaksanakan bagi yang melakukan Ciswak.

Beberapa warga Tionghoa di Buleleng masih percaya dengan tradisi Ciswak ini. Bukan hanya bagi kalangan orang tua, namun juga bagi kalangan anak-anak muda. Mereka pun melaksanakan tradisi ini secara khusuk, sehingva apa yang menjadi harapan mereka bisa dikabulkan.

Salah seorang warga Tionghoa dari desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng Elin Kanokit Hali mengaku masih mempercayai hal tersebut. Ia yang tahun ini ber-shio ayam datang ke tempat peribadatan untuk melaksanakan tradisi ciswak.

“Kepercayaan kami memang seperti itu, ada istilah ciong, makanya harus ikut ciswak untuk buang sial. Kalau saya pribadi masih percaya akan hal itu,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Deny Suhardi. Baginya jika sedang ciong, ada beberapa pantangan yang harus diikuti, karena menurutnya, ciong tidak hanya bisa membawa sial pada dirinya sendiri, namun juga bisa berdampak pada orang lain.

“Biasanya sih tidak boleh dulu nengok orang sakit, atau tidak boleh melayat sebelum di ciswak. Ya seperti itu memang kepercayaan umat kami,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Tempat Peribadatan Tri Dharma, Ling Gwan Kiong Pipit Budiman Teja menjelaskan, masyarakat Tionghoa khususnya di Kabupaten Buleleng masih sangat percaya dengan yang mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Shio ini dipercaya berhubungan erat dengan peruntungan dan kesialan. Sehingga warga yang melaksanakan tradisi Ciswak karena shionya bertentangan dengan shio tikus di tahun ini masih banyak.

“Hari ini merupakan hari terakhir perayaan tahun baru imlek, dilaksanakan setelah tahun baru, dan diadakan tanggal 15 dalam tahun baru imlek. Dan hari ini merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan Ciswak,” jelasnya. |RM|