Saluran Irigasi Sepanjang 4 Kilometer Alami Sedimentasi Tebal

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana menurunkan alat berat untuk mengeruk saluran irigasi yang alami sedimentasi

Singaraja, koranbuleleng.com| Saluran air irigasi di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt yang mengalir ke tujuh subak di wilayah Kecamatan Seririt dan Gerokgak mengalami sedimentasi parah. Saluran yang alami sedimentasi mencapai 4 kilometer dengan ketebalan hingga satu meter. Kondisi ini sudah terjadi lama dan dampaknya terjadi kekurangan air pada daerah lahan-lahan pertanian di wilayah subak itu.

Saluran sepanjang empat kilometer ini, diperuntukkan mengaliri tujuh subak di empat Desa. Masing-masing Subak Pangkung Kunyit, Subak Tegallenga, Subak Buluh, Subak Lebah di Desa Desa Banjar Asem, Kecamatan Seririt, Subak di Desa Tukad Sumaga, subak di Desa Tinga-Tinga, dan subak di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meninjau dan menurunkan alat berat milik pribadi ke lokasi sedimentasi di Desa Lokapaksa, Jumat 14 Pebruari 2020.

Klian Subak Pangkung Kunyit, Desa Banjar Asem Made Darmawan menjelaskan, sempat dilakukan pengerukan secara manual oleh warga dengan swadaya pada jalur terowongan. Namun masih ditutup oleh sedimentasi yang cukup tebal dan panjang. Harapannya, pengerukan sedimentasi menggunakan alat berat bisa mengembalikan fungsi saluran irigasi tersebut.  

“Kalau saluran ini mengalir normal, seluas 400 hektar bisa terselamatkan. Airnya bisa sampai ke Pengulon,” ungkapnya.

Sementara, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dari analisa awal, pengerukan kemungkinan akan memakan waktu hingga tiga bulan. Menurutnya, ada ribuan masyarakat yang membutuhkan fungsi dari saluran irigasi ini. Dengan melihat luas lahan yang bisa dialiri dari saluran ini hingga 400 hektar, membuktikan jika saluran irigasi ini memang sangat diperlukan.

“Saya turunkan alat berat. sedangkan operasionalnya dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Buleleng. Pekerjaan ini memerlukan alat yang lebih besar. Sebenarnya Dinas PU punya tapi kecil. Akan dimanfaatkan saat finishing,” ujarnya.

Agus Suradnyana memberikan terobosan sembari menunggu selesainya pengerukan. Sambil menjaga kebersihan, dirinya menganjurkan untuk mengecilkan debit air. Air bisa dialirkan sepanjang satu kilometer saja terlebih dahulu. Sambil menunggu pengerukan selesai secara keseluruhan, bagian yang sudah dikeruk bisa diisi ikan.  

“Nanti dari Dinas Perikanan akan membantu penyediaan ikan, misalnya ikan nila. Tentunya dengan air yang ada mengingat air disini cukup besar,” terang Agus. |R/RM|