Keindahan Ukiran Buleleng di Pura Beji Hingga Mampu Mencuri Perhatian Turis Eropa

Sejumlah wisatawan berkunjung ke Pura Beji,Desa Sangsit karena keindahan ukiran dan relief asli Buleleng. |Foto : Nova Putra|

Singaraja | Satu bus rombongan yang mengangkut turis dari Belanda, Eropa mengunjungi Pura Beji, Di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, Jumat (18/3) pagi. Mereka datang untuk melihat pesona keindahan pura dengan keasliannya yang masih mempertahankan relief dan ukiran-ukiran khas dari Buleleng.

Sedari memasuki halaman Pura, ukiran khas Bali utara sudah menyambut dengan berbagai relief-relief yang melambangkan kegiatan agraris serta keseimbangan alam semesta seperti patung bhuta kala,naga serta aktifitas pertanian dan lain sebagainya.

Pura Beji, adalah pura subak yang diperkirakan dibangun pada abad ke-15 silam, sehingga hampir seluruh relief di Pura Beji menggambarkan tentang kehidupan agaris serta keseimbangan alam semesta.

Keindahan ukiran dan relief-relief inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatwan terutama wisatawan Eropa yang lebih banyak berkunjung ke sini. Beberapa wisatawan Belanda juga merasa ada keterikatan dengan Pura ini karena kehidupan masa lalu.

Di dalam pura Beji, ada sebuah patung yang konon merupakan gambaran seorang tokoh dari pejabat Kolonial Belanda saat dulu. Konon, dulu ada sejumlah pejabat dari pemerintah Kolonial Belanda ikut membantu perbaikan Pura Beji.

“Ya itu Patung seorang Tokoh Belanda pada jaman dulu. Konon dulunya, ada pejabat dari Pemerintah Kolonial Belanda yang ikut dalam membantu perbaikan pura Beji. Diatas patung itu juga ada lengkungan menandakan itu bagian dri gaya arsitektur Belanda. Jadi ada percampuran nuansa bangunan Belanda dan Bali Utara,” terang Nyoman Mustika, Petugas Touris Information Service (TIS) Pura Beji.

Wisawatan yang bekrunjungke Pura Beji memang dominan dari Eropa karena mereka lebih menyukai tentang adat dan budaya. Bahkan, banyak peneliti internasional ke Pura Beji untuk melakukan riset terkaitd engan ukiran Bali utara ini.

Salah satu sudut ukiran dan relief di Pura Beji Desa sangsit. |Foto : Nova Putra|
Salah satu sudut ukiran dan relief di Pura Beji Desa sangsit. |Foto : Nova Putra|

Secara keseluruhan, kata Mustika seluruh ukiran dan relief masih mempertahankan gaya aslinya. Mulai dari Candi hingga ukiran-ukiran yang melekat di masing-masing pelinggih bernuansa Buleleng. “Termasuk kayu di gerbang ukiran ini juga masih menggunakan kayu jaman dulu, Cuma memang cat prada saja yang diperbaharui,” ujar Mustika.

Salah satu wisatwan asal Belanda, Anne Marije mengaku Dia mendapat informasi keunikan dari ukiran dan relief Pura Beji dari sejumlah temannya di Belanda. Karena itu Dia menyempatkan diri untuk berkunjung. Bukan hanya itu, Sejumlah kajian-kajian adat dan budaya tentang Bali utara sangat banyak tersebar di berbagai perpustakaan dan ruang-ruang diskusi di Belanda.

“Beberapa dosen di Belanda banyak menceritakan tentang keunikan ukiran-ukiran Buleleng, Pura Beji ini. Saya juga ingin berkunjungke Pura Medue Karang. Dan memang benar, fantastis sekali. Gaya masa lalu masih terjaga, sampai rumput-rumput tumbuh dengan subur. Ini berarti mereka (warga) masih menjaga keasliannya”’ ujar Anne Jumat pagi saat berkunjung ke Pura Beji.

Anne berharap Pemerintah setempat bisa mempertahankan gaya arsitektur bangunan pura seperti aslinya karena hal ini menjadi kekayaan Bali yang tak ternilai harganya.

Sementara itu, Kadis Kebudayan dan Pariwisata, Gede Suyasa mengaku pihaknya memang sangat menjaga kawasan-kwasan yang telah menjadi ikon wisata budaya bagi Buleleng. Disbudpar Buleleng juga sudah mulai menggalakkan dan mempertahankan ukiran-ukiran khas Bali di Buleleng.

“Ukiran khas di Pura Beji itu memang sedari awal seperti itu, kita berusaha tetap menjaganya. Promosi tetap kita lakukan, memasukkan dalam kalender-kalender even serta peta wisata. Cara lain kita juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk mempertahankan apa yang ada di sana,” jelas Suyasa. |NP|