PLN Akan Relokasi Kampung Barokah, Warganya Ajukan Syarat

Bupati Buleleng, Putu Suradnyana berbincang dengan siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Ta’riful Fuad, Desa Celukan Bawang. |Foto : Nova Putra|

Singaraja | Kisruh jaringan SUTT milik PLN yang membentang diatas Kampung Barokah desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak akhirnya menemukan kesepahaman. PLN memilih jalan relokasi pemukiman dan warganya setuju dengan sejumlah persyaratan. Kesepakatan itu diambil warga setelah melakukan pertemuan di Masjid Mardhotillah, pada Senin (28/3) lalu.

Poin-poin kesepakatan itu kemudian disampaikan warga kehadapan direksi PLN dalam mediasi lanjutan yang dilangsungkan di halaman masjid, Kamis (31/3) pagi kemarin. Mediasi berlangsung tepat dibawah bentangan kabel SUTT yang jumlahnya mencapai 24 unit.

Mediasi itu dipimpin Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Buleleng. Dalam pertemuan direksi PLN juga hadir, diantaranya GM PLN Distribusi Bali, Sandika, GM Unit Induk Pembangunan (UIP) VII Surabaya, Mayaruddin, Manajer Area PLN Bali Utara Ansats Pram Andreas Simamora, serta Manajer PLN Unit Pelaksana Konstruksi (UPK), Hendrawan.

Dalam mediasi itu, warga menyampaikan 12 poin kesepakatan yang dihasilkan dalam musyawarah Senin lalu. Beberapa poin kesepakatan diantaranya, PLN harus memindahkan seluruh warga di Kampung Barokah yang jumlahnya mencapai 127 kepala keluarga, kedalam satu lokasi. Lokasi itu pun harus berada di wilayah Desa Celukan Bawang. Warga sempat menolak adanya tim apprasial namun Bupati Buleleng langsung menolak permintaan itu karena untuk pembebasan lahan harus sesuai prosedur dan kebijakan anggaran yang benar.

“Dulu kami sudah direlokasi dari Dusun Pungkukan, yang sekarang ini berdiri PLTU, ke tempat sekarang ini yang namanya Kampung Barokah. Yang membuat kami sakit hati itu, kenapa kami harus dipindah kesini, kalau sudah tahu SUTT akan berdiri disini. Kok kami terus yang harus jadi korban penggusuran. Sekarang kami bersedia direlokasi, tapi kami harap kedepannya kami, anak-anak kami, jangan dijadikan korban lagi,” pinta Haerudi, mantan Perbekel Celukan Bawang yang tinggal di Kampung Barokah.

Mendengar kesepakatan itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyatakan pemerintah bersama PLN akan segera membentuk tim kecil. Tim kecil itu akan membahas pemindahan Kampung Barokah secara intens. Tim beranggotakan unsur pimpinan daerah, pimpinan di PLN, serta lima orang perwakilan warga.

Agus meminta warga memahami prosedur pembebasan lahan yang berlaku di pemerintahan. “Karena ini pakai uang negara, kami tidak bisa memenuhi permintaan warga sepenuhnya. Harus lewat tim appraisal. Nanti warga juga masuk dalam tim kecil itu, untuk membahas pemindahan ini lebih intens. Yang penting sekarang sudah ada kesepahaman mengenai relokasi pemukiman. Biar semua sama-sama nyaman,” kata Agus.

Sementara itu, GM Unit Induk Pembangunan (UIP) VII Surabaya, Mayaruddin mengatakan, pihak PLN akan segera menyiapkan pemindahan Kampung Barokah ke lokasi yang dianggap lebih layak. Apabila relokasi pemukiman tuntas, rencananya lokasi saat ini akan dimanfaatkan PLN sebagai gardu induk di Bali Utara, guna mendukung sistem kelistrikan di wilayah Bali Utara.

Dalam kesempatan ini, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana juga menyempatkan diri untuk melihat suasana seklah Madrasah Ibtidaiyah Ta’riful Fuad. Sekolah setingkat sekolah dasar ini juga berada tepat dibawah bentangan kabel SUTT. Disana Agus melihat langsung proses pendidikan dan mendengar aspirasi pihak sekolah terkait dengan rencana relokasi.

Salah satu guru di sekolah setempat, Umaroh mengaku suasana dibawah bentangan kabel SUTT lebih panas ketimbang tempat lain. “Paling takut itu kalau hujan dan petir. Kalau sudah ada petir, biasanya ada keluar api dari kabel-kabelnya itu,” kata Umaroh.|NP|