Joged Jaruh Eksis Karena Ada Permintaan

Tari Joged sebenarnya adalah tari pergaulan sosial di masyarakat. karena itu, masyarakat juga wajib untuk menghentikan eksistensi tarian joged porno yang sering beredar melalui media sosial. |Foto : Nova Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Joged jaruh atau Joged porno seringkali terlihat ditayangkan di media sosial maupun youtube. Parahnya, joged porno ini juga seringkali dikatakan berasal dari Buleleng, padahal dicurigai banyak pula sekaa-sekaa joged dari daerah lain diluar Buleleng yang ikut menarikan joged porno. Joged porno ini bisa ditarikan karena ada permintaan dengan bayaran yang mahal.

Tidak semua penari joged di Buleleng juga setuju dengan pementasan joged porno ini, bahkan diantara mereka juga mengutuk keras aksi joged dengan goyangan penuh sensasional dan erotis ini.

Salah satu penari joged asal Sekaa Candra Metu, Desa Sinabun, Ni Komang Kenik menuturkan joged porno itu ada karena permintaan yang sangat tinggi, baik oleh kelompok penyelenggara acara tertentu maupun oleh masyarakat langsung.

Kenik sendiri tidak setuju dengan joged yang penuh dengan goyangan erotis dan sensasional karena itu merusak identitas joged sebagai tari pergaulan sosial.

“Sekarang sudah jarang ikut menari, sebab keluarga juga tidak mengijinkan. Jika ada orderan menari biasanya klian sekaa yang menghubungi dan menjelaskan lokasi pentas, tetapi joged yang kami tarikan adalah joged pada umumnya tanpa ada goyangan erotis dan porno. Selama ini, justru penyelenggara acara yang memesan joged jaruh. Tapi saya lebih baik tidak ikut menari jika ada permintaan seperti itu, walau resikonya ya, berdampak pada penghasilan. Namun saya sangat yakin suatu saat joged porno akan hilang dengan sendirinya,” tuturnya.

Hal berbeda disampaikan salah seorang penari joged bumbung yang enggan disebutkan namanya.  Penari ini menyatakan kendati Joged porno menuai kritikan keras saat ini, namun dalam pementasannya tarian joged tidak semata-mata menjadi kepuasan pribadi bagi para pengibingnya tapi juga hiburan bagi masyarakat yang menonton.

Sang penari ini mengaku berani mementaskan tarian joged yang terkesan jaruh karena merupakan permintaan pihak penyelenggara acara dengan bayaran yang tinggi dibandingkan dengan joged pada umumnya.

“Kenyataannya ketika makin bagus goyangan yang ditampilkan maka pengibing, juga penonton akan semakin antusias untuk menyaksikan dan ikut menari. Namun, kami bukan pemuas pribadi, itu kami lakukan karena tuntutan skenario dari penyelenggara acara, sesuai perjanjian kontrak yang telah disepakati paling lama menari selama 4 menit,” ujarnya.

Menurutnya, munculnya joged porno ini tidak lepas dari persaingan antar sekaa joged yang sudah semakin ketat. Jika penari joged tidak menampilkan tarian erotis maka sekaa tersebut bakal tidak laku, bahkan mungkin terancam bubar.

Sementara itu, Kelian Sekaa Joged Santika Dwipa, Desa Sinabun, Ida Bagus Putu Kerantana menyatakan sejumlah tarian joged yang semula dipentaskan secara sederhana mulai mengalami pergeseran dari tarian sederhana hingga berubah menjadi tarian erotis.

Kondisi ini juga dimulai dengan meredupnya bisnis pariwisata di bali pasca pasca Bom Bali II dulu. pasca bom, sedikit sekali permintaan joged dari sejumlah agen wisata dan hotel sebagai pengguna tarian joged yang ingin dipersembahkan kepada wisatawan.

Karena kurangnya permintaan itu, muncul ide sejumlah sekaa untuk membuat goyangan tarian joged yang lebih erotis hingga akhirnya menjadi kebablasan seperti saat ini. Itu dilakukan oleh sejumlah sekaa joged supaya mereka tetap eksis.

Hingga perjalanannya sampai kini, acapkali hal-hal yang erotis dianggap sebagai hal yang wajib bagi sekaa joged yang akan pentas.

Menurutnya, penampilan erotis para penari joged selama ini sebenarnya bukan dari inisiatif penari. Pada umumnya merupakan request yang berasal pihak tertentu yang mengundang sekaa joged, bahkan tak jarang permintaan itu berasal dari penonton.

“Susah kadang juga Pak, joged jaruh yang dipentaskan kan biasanya request dari pihak yang mengundang sekaa joged, bukan inisiatif dari pihak sekaa atau penari, bahkan sering dari permintaan penonton. Bukan rahasia umum lagi, memang kebanyakan orang cari yang porno. Jika tidak dipenuhi, ya tidak dapat job untuk pentas, apalagi sekarang ini persaingan antar sekaa joged semakin ketat,”ungkapnya.

Ida Bagus Putu Kerantana meminta agar pemerintah tegas dan berlaku adil dalam menindak joged porno ini. Diakuinya, Pemerintah Propinsi Bali sudah mengeluarkan surat pelarangan terkait dengan pementasan joged porno ini. Namun prakteknya hingga kini masih saja ada tarian joged porno.

Kerantana menegaskan bahwa joged porno itu bukan hanya ada di Buleleng saja, tetapi banyak sekaa di Bali yang juga ikut menampilkan joged porno ini. Namun selama ini, justru Buleleng yang dianggap sebagai tempatnya joged porno.

“Itu tidak adil, katanya banyak dari Buleleng. Banyak beredar video joged jaruh di youtube, namun itu kan belum tentu sekaa kami. Dari hal tersebut, sangat diperlukan kesadaran dari semua pihak, baik dari penyelenggara juga penonton supaya tidak mencari joged porno. Sekarang kami juga justru ketegasan pemerintah yang kami tunggu,” tandasnya.

Pihaknya berniat mendesak pemerintah untuk melakukan pembinaan secara menyeluruh kepada seluruh sekaa joged yang ada di Bali, dan bukan hanya yang ada di Desa Sinabun saja. Ini dikarenakan banyak sekaa joged di luar Desa Sinabun yang menghadirkan tarian yang jauh lebih vulgar, ketimbang yang dihadirkan oleh sekaa dari Sinabun.

Selain itu, Ia juga meminta agar pemerintah melakukan pembinaan kepada masyarakat maupun pihak-pihak yang menyelenggarakan pementasan joged hingga secara perlahan masyarakat teredukasi, bahwa kesenian joged bukan hal yang porno.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Nyoman Sutrisna menyatakan Pemkab Buleleng saat ini sedang melakukan berupaya “memerangi” joged porno melalui penuluhan dan pembinaan bagi sekaa-sekaa joged di Buleleng supaya tidak menarikan joged porno. Bulfest tahun 2016 kemarin dengan menampilkan ikon joged bumbung secara massal menjadi penanda awal, bahwa Pemekab Buleleng tidak setuju adanya joged porno

Disbudpar Buleleng juga mengimbau kepada masyarakat supaya tidak menyebarkan foto maupun video terkait dengan joged porno.

“Kami mengimbau kepada masyarakat juga supaya tidak menyebarkan foto atau video joged-joged erotis ini. Kita harus ikut serta “memerangi” pentas-pentas joged porno ini karena tidak bisa memberikan pendidikan yang baik bidang seni dan budaya Bali,” terang Sutrisa. |NH|