Lahan Kritis Buleleng Dimanfaatkan Untuk Perkebunan Tebu

Lahan kritis di Gerokgak yang rencananya dikembangkan untuk perkebunan tebu |Foto : Istimewa|

Singaraja, koranbuleleng.com | Pemkab Buleleng akan mengembangkan lahan-lahan kritis di wilayah Kecamatan Gerokgak supaya lebih produktif dengan pengembangan budi daya perkebunan tebu.

Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Pertanian untuk mengarahkan perluasan perkebunan tebu dari Pulau Jawa ke Bali, diantaranya di wilayah Jembrana atau Buleleng.

Sejumlah pabrik gula di Jawa Timur dan sekitarnya ditengarai sudah kesulitan mendapat tebu. Itu terjadi karena lahan perkebunan tebu di Jawa semakin menyempit akibat faktor alih fungsi lahan.

Sementara Buleleng mempunyai banyak sekali lahan kritis yang selama ini tidak bisa berfungsi baik karena terkendala kebutuhan air.

Data yang ada, lahan kritis di wilayah Buleleng menyebar paling banyak di wilayah Kecamatan Gerokgak. Lahan-lahan kritis inilah yang rencananya dibuka untuk pembudidayaan perkebunan tebu dengan melibatkan petani penggarap dari warga lokal.

Diantaranya  di Desa Tukad Sumaga seluas 150 hektar dengan 52 kepala keluarga (KK) petani pengolah. Desa Sanggalangit seluas 411, 45  hektar di mana petani yang siap membudidayakan tebu di daerah ini sebanyak 148 KK. Sumbrkima 138 hektar dengan 42 KK petani, Pemuteran 100 hektar dengan 30 KK petani, Pejarakan 200,05 hektar di mana petani yang siap membudidayakan tebu sebanyak 90 KK, dan Desa Pengulon 200, 50 hekatar akan diolah oleh 72 KK petani.

Selama ini, lahan pertanian di Kecamatan Gerokgak sebagian besar tergolong lahan kritis. Ini dibuktikan dengan lahan di Buleleng barat ini kesulitan air irigasi, sehingga budi daya tanaman yang dikembangkan seringkali curah hujan saja.

Dari kondisi itu, Kementerian Pertanian berupaya agar produksi gula nasional tetap stabil dengan memindahkan program budi daya tebu ke Bali Utara.

Lahan-lahan kritis di wilayah Gerokgak dinilai memenuhi syarat untuk perkebunan tebu. Ada persamaan tekstur dan kontur tanah di Gerokgak dengan wilayah-wilayah Jawa Timur yang selama ini ditanamai tanaman tebu.

Dari sisi lain, salah satu BUMN sudah bersedia untuk bekerjasama dengan pemerintah untuk mengembangkan budi daya tebu di Gerokgak.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Agung Adnyana mengatakan, sejauh ini sudah ditetapkan areal budi daya tebu di atas lahan kritis seluas 1.200 hektar.  Lahan seluas itu, biasanya hanya bisa ditanami jagung ketikamusim hujan saja.

“Sejak kita ditunjuk untuk melakukan ujicoba budi daya tebu oleh pemerintah pusat, kami sudah melakukan tahapan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) dan lahannya sudah siap termasuk petani sudah ditetapkan lewat kelompok tani (Poktan) di enam desa di Gerokgak,” katanya.

Para calon petani tebu tersebut juga sudah mengikuti pelatihan dan praktek budi daya tebu pada  7 sampai 9 April 2018 yang lalu. Sebanyak 22 perwakilan petani mengikuti praktek  budi daya tebu.

Langkah awal ini difasilitasi oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI) yang berada di bawah manejemen  PT. Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI) Jawa Timur. PTPN XI ini merupakan BUMN Agribisnis Perkebunan dengan core bisnis gula. Perusahaan ini bahkan satu-satunya BUMN yang mengusahakan komoditas tunggal, yakni gula, dengan kontribusi sekitar 16-18% terhadap produksi nasional

Nantinya, budi daya perkebunan tebu ini selain memberikan penghasilan kepada petani, pembudidayaan tebu ini juga untuk memenuhi kebutuhan gula secara nasional melalui produksi gula pabrik gula di Jawa timur.

“Tahapan sedang berproses dan perusahaan selain sudah mengajarkan praktek budi daya tebu kepada petani, dalam waktu dekat ini akan dilakukan pengolahan lahan, penyiapan bibit hingga tahapan penanaman,” jelasnya.|NP|