Nuansa Api di Lovina Festival

Tenaga Ahli Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata, Kementrian Pariwisata Prof. Gede Pitana menyulut obor dalam pembukaan resmi Lovina Festival ke-7 di Pantai Binaria

Singaraja, koranbuleleng| Pembukaan secara resmi Lovina Festival ke-7 bertajuk “The Beauty Never Ends” di Pantai Binaria, Kawasan wisata Lovina dominan dengan nuansa api. Sedikitnya ada dua hal yang mengidentikan nuansa api itu, diantaranya, penyulutan api obor oleh pejabat Kementerian Pariwisata RI, Gede Pitana dan dilanjutkan dengan penyalaan 50 obor lainnya di sepanjang pantai Binaria. Selain itu, ada juga fire dance atau tarian api setelah penyulutan obor.

Penyulutan api obor dan fire dance ini dimaknai sebagai sebuah semangat untuk membangun Lovina dan pembangunan pariwisata lainnya di Buleleng.

Khusus tarian api yang dibawakan oleh Sanggar sekar Art Cana, sempat mengundang decak kagum dari penonton Lovina Festival serta tamu undangan. Tarian yang berdurasi kurang lebih 30 menit menambah suasana keindahan malam di Pantai Lovina.   

Kementerian Pariwisata RI memandang eksistensi festival di sebuah daerah sangat penting untuk kemajuan dunia pariwisata di Indonesia. Sejauh ini, Kabupaten Banyuwangi adalah daerah yang paling banyak menggelar festival dan terbukti mampu mendongkrak pembangunan daerah dari sector pariwisata.

Dalam satu tahun, Banyuwangi bisa menggelar festival sebanyak 90 festival, sementara di Buleleng hanya ada 16 festival setiap tahun.

“Saya berharap, Buleleng bisa menambah even-even festival lebih banyak lagi,” ujar Gede Pitana yang menjabat Tenaga Ahli Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata, Kementerian Pariwisata saat memberikan sambutan.

Menurut Gede Pitana Festival adalah salah satu cara yang efektif untuk mempromosikan suatu destinasi pariwisata. Promosi merupakan sebuah investasi sehingga kurang tepat jika dikatakan sebuah festival adalah kegiatan yang menghambur-hamburan biaya.  Festival memberikan dampak baik secara langsung, tidak langsung dan dampak ikutan.

“Jadi rasanya kurang tepat sebuah festival dikatakan mengambur-hamburkan uang. Festival adalah ajang promosi sebagai salah satu investasi pariwsata sehingga memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung,” jelasnya.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan banyak kalangan terperangkap menilai sebuah festival hanya dari dampak langsungnya sehingga keluar kesimpulan bahwa sebuah festival memberikan dampak yang sangat kecil bagi kemajuan pariwisata.

Menurutnya, cara pandang ini harus dirubah dengan melihat festival sebagai sebuah investasi yang hasilnya akan terlihat beberapa tahun kemudian. “Oleh karena itu, konsistensi sebuah festival merupakan suatu keharusan untuk memajukan pariwisata,” ujar Gede Pitana.

Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, ST dalam sambutan selamat datangnya kembali menitipkan pembangunan aksesibilitas di Buleleng kepada Kementerian Pariwisata. Hal ini dibutuhkan mengingat Lovina sudah menjadi ikon dari Bali Utara.

Dengan pemerataan pembangunan di Bali dan juga target 20 juta wisatawan, infrastruktur sangat dibutuhkan untuk memajukan pariwisata khususnya di Kabupaten Buleleng. “Saya mendorong terus bagaimana target 20 juta wisatawan ini bukan hanya sebagai target saja melainkan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali agar idak terkooptasi terus di selatan,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan infrastruktur yang dimaksud adalah pembangunan shortcut yang cepat dan pembangunan bandara yang cepat. Dengan begitu aksesibilitas sangat penting untuk kemajuan pariwisata di Buleleng. Ketersediaan dua infrastruktur itu bisa membuka akses dari entry point Bandara Ngurah Rai tidak terlalu jauh lagi.

“Dengan akses tersebut dan juga adanya bandara, perkembangan pariwisata di Buleleng bisa semakin meningkat,” tandas Agus Suradnyana.

Pembukaan Lovina Festival VII tahun 2018 ini juga diramaikan oleh para yachter dan Tari Rejang Renteng Massal serta restocking ikan dan penenggelaman patung janger sebagai rumah ikan dan tempat bertumbuhnya terumbu karang di wilayah perairan Lovina. |NP|