Ijin Penlok Bandara Baru Buleleng Turun 4 Bulan Kedepan

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melihat peta lokasi lahan yang akan dipersiapkan untuk pembangunan bandara baru di Desa Kubutambahan, Buleleng |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Kedatangan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ke lokasi persiapan pembangunan bandara di Desa Kubutambahan membuat warga Buleleng lebih merasa yakin rencana pembangunan bandara baru benar-benar terwujud.

Budi Karya Sumadi memberikan penegasan bahwa lokasi bandara baru di Desa Kubutambahan lebih ideal dibandingkan dua lokasi lain yang pernah disurve, yakni Celukan Bawang dan Gerokgak. Setelah kunjungan ini, Budi memastikan akan ada studi kelayakan lanjutan untuk menentukan ijin penentuan lokasi.

“Penlok kurang lebih 3 sampai 4 bulanlah,” kata Budi usai peninjauan lokasi.

Tanah yang lebih popular disebut Bukit Teletubies ini dinilai lebih ideal karena minim resiko sosial dan budaya. Tidak ada penggusuran secara masiv karena tidak ada pemukiman, serta sangat minim situs arkeologi maupun pura yang menjadi tempat peribadatan masyarakat hindu di Kubutambahan.

Budi menegaskan dari sisi teknis Kementerian Perhubungan melihat adanya kemudahan dari pengadaan tanah. Tanah yang dipersiapkan adalah milik desa adat, dan menjadi kewenangan Gubernur Bali bersama Bupati Buleleng untuk membicarakan kepada desa adat.

Nantinya, pemerintah daerah dan desa adat ikut dalam penyertaan modal bandara dalam skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan badan usaha).

“Pemda dan Desa Adat sebagai standby owner, sementara yang lain ikut dalam tender. Dalam tender kita usahakan transparan mencari paling kompeten dan efisien dalam proses tender itu,” ujar Budi.

Intinya, kata Budi, peninjauan fisik ini tidak ada jumlah penduduk yang digusur sehingga memudahkan untuk mencari solusi permasalahan sosial budaya.

Sementara secara teknis, pembangunan bandara di lahan ini akan melakukan pola cut and fill atau gali dan urug sehingga tidak mendatangkan material tanah dari daerah luar. Sistem cut and fill ini merupakan proses pengerjaan tanah di mana sejumlah massa tanah digali untuk kemudian ditimbun di tempat lain di satu lokasi yang sama.

Bukit Teletubies di Desa Kubutambahan yang dipersiapkan untuk bandara baru.|Foto : Putu Nova A.Putra|

Proyeksi kedepan, bandara Ngurah Rai akan beroperasi dengan konsep premium, sementara bandara di Bali utara akan menjadi bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Jadi kedua bandara di Bali ini nantinya tetap akan berkolaborasi dan saling mengisi. Panjang runaway untuk bandara baru minimal 3000 meter.

“Panjang runway minimal 3000 meter sebagai bandara internasional,” ujarnya.

Kedatangan Budi Karya Sumadi juga disambut sejumlah prajuru Desa Adat Kubutambahan. Klian Desa Adat Kubutambahan, Jro Pasek Warkadea juga memaparkan situasi dan kondisi di sekitar lokasi yang disiapkan untuk pembangunan bandara baru.

Di lokasi itu, kata Warkadea memang minim situs arekologi dan pura-pura tua. Satu pura yang disebut sebagai pura Pande berada di areal lokasi. Jika pura ini terkena gusuran , maka akan dicari solusi terbaik.

“Memang ada Pura Pande, namun setelah ditanyakan bisa saja dipindahkan dengan syarat melakukan tata upacara yang benar,” ujar Jro Pasek dihadapan Menhub Budi Karya Sumadi.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster hanya meminta masyarakat Buleleng tetap berdoa agar proses pembangunan bandara di Buleleng berjalan lancar.

“Saya hanya minta doa saja dari masyarakat, agar semuanya bisa dilancarkan,” kata Koster usai mendampingi Budi. |NP|