Tradisi Mepasaran Sebagai Permohonan Kesejahteraan Untuk Balita

Tradisi Mepasaran Mohon Kesejahteraan Untuk Bayi 3 Bulan

Singaraja, koranbuleleng.com| Dusun Galiran Desa Baktiseraga Kecamatan Buleleng memiliki sebuah tradisi unik saat pelaksanaan Upacara Tiga Bulanan anak. Tradisi itu adalah Upacara Mepasaran yang dilakukan di bawah Pohon Asam (Asem Wayah) dengan tujuan memohon kesejahteraan, kesehatan untuk Si Bayi.

Tradisi Mepasaran yang dimiliki Dusun Galiran Desa Baktiseraga ini memang sudah berlangsung sejak dahulu yang dilakukan secara turun temurun. Dulu, setiap orang tua yang melaksanakan upacara tiga bulan Bayinya, bisa melaksanakan tradisi ini.

Prosesi ini diawali dengan melakukan persembayangan di bawah pohon asam yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun yang ada di depan Pura Desa. Nah setelah persembahyangan, barulah memulai tradisi inti yakni mepasaran. Seperti namanya, tradisi mepasaran sama persis seperti aktivitas di sebuah pasar. Dimana ada penjual dan ada pembeli.

Yang menarik, pemeran seorang penjual adalah Sang Bayi yang baru saja diupacarai Tiga Bulanan, sedangkan yang berperan sebagai pembeli adalah warga disekitar lokasi. Disinilah kemudian terjadi transaksi jual beli. Dimana Sang Bayi harus bisa melayani pembeli dengan professional, tentunya dengan dampingan dari orang tuanya. Tradisi diakhiri dengan mengelilingi pohon asam yang berusia ratusan tahun itu sebanyak tiga kali.

“Tujuannya tentu untuk memohon kerahayuan, sehat jasmani dan rohani, dan di masa depan nanti, Sang anak menjadi pedagang sukses atau menjadi pengusaha sukses dan menurut sama orang tua,” jelas Jro Mangku Nara

Menurutnya, Tradisi ini bukanlah sebuah Upacara Yadnya yang wajib untuk dilaksanakan oleh warga. Mereka yang memang memiliki keinginan untuk menggelar tradisi ini sebagian besar masih percaya tradisi ini akan mengabulkan permhonan untuk kesuksesan anaknya kedepan. Tidak jarang pula pihak orang tua yang melaksanakan Mepasaran ini untuk membayar nasar, agar kelak anaknya menjadi rang yang berhasil. Karena tidak bersifat wajib, Tradisi Mepasaran ini kata Jro Nara sudah jarang yang melaksanakan.

“Bisa dilakukan atau tidak dilakukan itu tergantung harapan orang tua saja. Dan tidak ada akibat apapun kalau tidak melakukan mepasaran. Makanya tradisi ini semakin hari semakin hilang dan semakin jarang warga melakukan mepasaran,” ujarnya.

Putu Dedy Yastika merupakan salah seorang warga yang masih percaya dengan Tradisi Mepasaran. Sebagai bukti, saat upacara Tiga Bulan Putra Ketiganya Komang Bramiswara Yastika, Ia pun melaksanakan tradisi ini. Sebagai warga, Dedy merasa harus memiliki tanggung jawab agar tradisi ini tetap lestari. Bahkan untuk memeriahkan, Dedy sengaja melibatkan Grup Bondres Rare Kual, sehingga otomatis tradisi mepasaran ini pun semakin semarak.

“Harapannya tentu agar tradisi mepasaran di Galiran ini tetap terjaga selamanya. Terlebih lagi memang pohon asam wayah Galiran yang diyakini selalu mengabulkan permintaan,” katanya.

Dedy Yastika yang juga akrab disapa Melor ini yakin, jika Tradisi Mepasaran ini bisa lestari dan eksis di tengah zaman globalisasi saat ini, Dusun Galiran Desa Baktiseraga Kecamatan Buleleng akan memiliki nilai tawar lebih, khususnya untuk perkembangan wisatawan di Buleleng.

“Saya yakin kalau tradisi ini dipertahankan, ini adalah aset desa yang akan menjadi daya tarik wisata di Buleleng. Desa kami akan diperhitungkan oleh wisatawan karena memiliki tradisi yang unik,” tegasnya. |Rika Mahardika|