Bupati Berniat Jadikan Bale Agung Sebagai Simpul Sejarah NKRI

Putu Agus Suradnyana saat melakukan persembahyangan di Pura merajan Bale Agung |Foto : Nova Putra|


Singaraja, koranbuleleng.com | Bale Agung, bagian kecil dari sudut kota Singaraja. Disini, banyak tersimpan sejarah dari masa lalu. Salah satunya, sebagai rumah asal dari Rai Srimben, ibunda Bung Karno, sang peletak dasar atau founding father dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dialah, Presiden RI ke-1 yang mempunyai kedekatan sejarah dengan Singaraja. Banyak kalangan mempunyai cara pandang, jika saja Rai Srimben tidak berjodoh dengan Raden Soekemi, maka tak akan lahir Sukarno, maka kemungkinan pula tak ada NKRI.

Dari cara pandang seperti itulah, Bale Agung disebut salah satu tempat sebagai cikal bakal lahirnya NKRI.

Raden Soekemi adalah seorang guru yang mengajar pada sekolah rakyat di Singaraja. Saat ini, sekolah tersebut masih berdiri dan bernama SDN 1 Paket Agung, berlokasi di Jalan Veteran, Singaraja.

Raden Soekemi menikahi Rai Srimben dengan penuh cerita haru. Karena tanpa ada persetujuan dari keluarga Rai Srimben. Namun, Raden Soekemi nekat menikahi gadis pujaanya itu hingga lahir Soekarno.

Dari catatan sejarah itu, ada kemauan dari Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana untuk tetap menjaga nilai-nilai sejarah dari Bale Agung dengan menjadi situs sejarah tanpa menghilangkan wujud aslinya.

Agus menjelaskan sebagai cikal bakal sejarah NKRI, Bale Agung bisa dijadikan situs pariwisata sejarah.

Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno merupakan salah satu upaya untuk lebih memperlihatkan Bale Agung sebagai situs sejarah. Ini tentunya bisa meningkatkan kesejahteraan Bale Agung sendiri.

“Masyarakat Bale Agung bisa bersatu untuk mewujudkan hal tersebut,” jelasnya.

Pemerintah akan mendekatkan nilai historis yang telah ada di Bale Agung pada pra dan saat kemerdekaan Indonesia, bisa memberikan manfaat terhadap masyarakat Bale Agung.

Agus mengungkap keinginan dirinya sejak lama untuk merestorasi Bale Agung sebagai situs sejarah.

“Pemerintah nantinya bisa mendiskusikan bagaimana membuat tempat yang luar biasa ini dijadikan sesuatu untuk mengingatkan orang tentang sejarah terbentuknya NKRI,” ungkap Agus Suradnyana saat menghadiri acara Ngembak Gni games di Bale Agung serangkaian perayaan Hari Suci Nyepi, beberapa waktu lalu.

Agus Suradnyana juga menyatakan kesiapannya berdiskusi dengan masyarakat Bale Agung.

Agus menambahkan Bale Agung dengan berbagai nilai historisnya mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Bale Agung sendiri dengan mengembangkan daerah itu sebagai situs pariwisata sejarah.

Dimulai dari RTH Bung Karno, Desa Beratan yang memiliki tempat-tempat kerajinan berkualitas. Setelah itu, dihubungkan dengan Bale Agung. “Tinggal dipoles lagi sedikit sehingga memberikan manfaat yang luar biasa,” ujarnya.

Agus menganalogikan dengan keberadaan makam Bung Karno di Blitar. Jika saja di Blitar tidak ada makam Bung Karno, Blitar tidak terkenal seperti sekarang.

“Bale Agung merupakan tempat dimana tonggak sejarah yaitu ibunda dari pejuang kemerdekaan NKRI, Bung Karno berasal,” tutup Agus Suradnyana. |NP/R|