Parade Sapi Gerumbungan Hanya Diikuti Empat Baga

Singaraja, koranbuleleng.com| Pelaksanaan Twin Lake Festival ke-enam tahun 2019 kembali menggelar parade Sapi Gerumbungan yang berlangsung di Kawasan Danau Tamblingan Desa Munduk Kecamatan Banjar. Dalam kegiatan itu, hanya melibatkan empat baga.

Antusias masyarakat untuk menyaksikan parade sapi gerumbungan ini sebenarnya tinggi. Terlihat dengan banyaknya warga yang hadir, termasuk juga terlihat sejumlah wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, pelaksanaan Parade Sapi gerumbungan itu nampak kurang maksimal. Terlihat dari jumlah baga yang terlibat hanya empat baga.

Tidak hanya itu, antusias dari penonton yang ingin mencoba menjadi “Joki” untuk duduk mengendalikan sapi juga hanya sedikit. Beberapa diantaranya termasuk wisatawan mengaku takut untuk mencoba. Terlebih lagi setelah mereka melihat, beberapa joki memang nampak kesulitan mengendalikan laju sapi, sehingga sepasang sapi jantan yang dikaitkan pada sebuah Uga terkadang tidak berlari lurus kedepan.

Kondisi itupun diakui oleh salah seorang Joki yakni Ketut Wijana. Menurutnya, sapi tidak berlari lurus kedepan bukan karena sang joki yang tidak mampu mengendalikan, melainkan karena permukaan tanah pada lokasi yang dijadikan arena pelaksanaan sapi gerumbungan tidak rata.

“Niki tanahnya tidak rata, masih ada gundukan-gundukan, jadi kaki sapinya itu susah untuk berpijak saat lari. Kalau di Kaliasem (Lapangan Kaliasem) bagus. Kan disana biasanya dilaksanakan lomba,” tuturnya.

Kurang maksimalnya pelaksanaan Sapi Gerumbungan juga diakui Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng Nyoman Sutrisna. Dari pelaksanaan kegiatan tersebut, Ia akan segera melakukan evaluasi. Pun demikian salah satu yang sudah menjadi rencananya adalah untuk menggelar sapi gerumbungan dengan format lomba.

“Kedepan kami rancang dalam bentuk lomba, jadi adrenalin semangat baga untuk ikut kegiatan akan lebih kuat,” ujarnya.

Menurut Sutrisna,  atraksi sampi gerumbungan ini adalah upaya untuk menjaga dan melestarikan tradisi agraris karena sampi gerumbungan ini lahir dari tradisi pertanian masyarakat Bali. Dari pelestarian itu, Sampi Gerumbungan telah dijadikan atraksi wisata yang ditawarkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam berbagai event pariwisata.

“Tadi kan sudah ada wisatawan yang menyaksikan, karena memang upaya kami untuk mengangkat local jenius dari tradisi yang ada di Buleleng. Dan targetnya kedepan tentu promosinya harus kita laksanakan lebih kencang,” tegasnya. |RM|