Tari Kolosal Ayuning Bhineka Sakti Meriahkan Panggung Shinning Buleleng

Singaraja, koranbuleleng.com| Tari Ayuning Bhineka Sakti menjadi salah satu tarian yang membuka pelaksanaan Buleleng Festival (Bulfest) ke tujuh Selasa, 6 Agustus 2019. Tarian Kolosal yang dibawakan oleh padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja ini tampil dengan sangat apik dan menyajikan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja menyajikan sebuah pertunjukkan yang berkelas dalam Pembukaan Bulfest di Panggung Utama Tugu Singa Ambara Raja, dengan menampilkan tarian kolosal berjudul Ayuning Bhineka Sakti. Tarian ini memang sangat memukau para pengunjung Bulfest saat itu. Bagaimana tidak, Gede Pande Olit Satria Kusuma Yudha sebagai konseptor dari Tarian ini menyajikan keberagaman Indonesia dalam sebuah pertunjukkan.

Misalkan saja dari sisi Tabuh, tidak hanya menggunakan gamelan Bali, Olit begitu dia akrab disapa juga mengkolaborasikan alat music lain seperti Rebana, dan juga kendang Sunda. Kemudian dari tarian, juga menampilkan Tarian dari berbagai Daerah, mulai dari Aceh, Riau, Betawi, hingga Papua. Semua kemasan tari kolosal ini digarap untuk menggambarkan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Tiang ambil konsep cerita Sumpah Gajah Mada, Amukti Palapa, yang bertekad untuk mempersatukan Nusantara. Dengan keberagaman etnis dan budaya, kekayaan adat, disatupadukan, dan ditampilkan dalam pementasan,” jelas Olit.

Penampilan Tarian Kolosal ini tentu memang sangat berkelas. Tidak hanya menunjukkan Kabupaten Buleleng yang bersinar akan kualitas keseniannya, namun juga menunjukkan bahwa Gumi Denbukit sangat terbuka akan keberagaman. Terlebih lagi pelaksanaan Bulfest ke tujuh ini juga berlangsung dalam nuansa Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Setidaknya hal itulah yang ingin ditunjukkan oleh Olit. Secara pribadi, Ia ingin menunjukkan kecintaannya terhadap Kebhinekaan, sehingga Negara tetap utuh dengan menerima segala keberagaman dan kebersamaan untuk saling mencintai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Secara pribadi saya sangat mencintai keberagaman Etnis, Budaya, Suku, Agama, dan juga apapun yang berbeda di Indonesia. Dan belakangan ini memang kebhinekaan sedang sangat menjadi sorotan. Kita seharusnya bisa menerima, karena itulah Indonesia, untuk menjaga keutuhan,” tegasnya.

Disisi lain, pelaksanaan Bulfest tahun 2019 dibuka secara resmi oleh Deputi bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Ni Wayan Giri Adnyani ditandai dengan pemukulan gong. Dalam sambutannya, Giri Adnyani memuji langkah Pemkab Buleleng untuk merangkul millennial dalam zona millennial. Seperti diketahui, millennial merupakan pasar potensial untuk pariwisata di Indonesia. Sebanyak 51 persen wisatawan merupakan kaum millennial.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Buleleng karena telah merangkul kaum millennial pada Bulfest tahun 2019 ini,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan jika gelaran Bulfest kali ini beriringan dengan momentum pembangunan shortcut Singaraja-Denpasar. Dengan begitu, Buleleng telah siap dengan semuanya. Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan budaya bisa dielaborasi dengan kesenian serta kuliner. Hal tersebut ditunjukkan pada Bulfest yang terdapat seni, budaya dan juga stan kuliner.

“Banyak sekali yang bisa kita tampilkan untuk mempromosikan pariwisata di Buleleng,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang paling penting adalah Bulfest ini memberikan rasa kebersamaan bagi warga Buleleng. Selama ini, Buleleng terkenal dengan image keras dan sering ribut. Namun, beberapa tahun belakangan ini Buleleng aman dan tentram. Buleleng terus berbenah dalam bidang adat istiadat, kultur dan budaya.

“Salah satunya dengan Buleleng Festival ini. Kita siap menghadapi persaingan pariwisata dengan atraksi yang ada,” imbuh Agus Suradnyana. |RM|