Mebarung Tak Pernah Mati

Tari Kekebyaran gaya Buleleng yang dipentaskan saat Parade Gong Kebyar Mebarung Bulfest 7 |FOTO : Humas Pemkab Buleleng|

Singaraja, koranbuleleng.com | Mebarung adalah seni. Selalu dilakukan oleh dua sanggar kesenian di Buleleng. Buleleng Festival ke-7, secara khusus menampilkan parade gong kebyar mebarung dauh enjung dan dangin enjung di Sasana Budaya, Singaraja. Parade mebarung ini digelar selama 6-10 Agustus 2019.

Parade itu juga secara khusus menjadikan panggung sasana budaya percantik dengan ornament khas Bali. Biasanya, selama Bulfest berlang dari pertama, baru Bulfest yang ketujuh ini, panggung sasana Budaya yang selalu dijadikan zona pementasan, berhias megah.

Parade mebarung ini, juga memancing kedatangan penonton dari berbagai desa. Bukan hanya sanggar yang tampil saja mengajak suporternya, namun ada juga penikmat seni tradisional Bali dari desa-desa lain di Buleleng datang ke Sasana Budaya.

Amen sube mebarung, jeg pasti kal tekain (Kalau sudah mebarung, pasti datang),” tutur Made Wirawan, penikmat seni tradiisonal dari Desa Ambengan, Sukasada.

Begitulah, seni Gong Kebyar Buleleng dengan hentakan yang dinamis, dipentaskan dengan gaya mebarung selalu mendatangkan kenikmatan menonton yang sempurna. Penonton sangat sering larut dengan hentakan-hentakan nada gong yang selalu mengejutkan.  Apalagi ditambah, berbagai ekspresi dan atraksi dari para penabuhnya. Seakan kesannya, saling ledek antar grup sepanggung, tetapi itu hanyalah muatan dan gaya yang ekspresif semata.

Hari ketiga panggung Parade Gong Kebyar Buleleng Festival ke-7, menampilkan dua sekaa tangguh. Sekaa Langen Kerthi Budaya, Desa Lokapaksa dengan lawan mebarung sekaa Eka Wakya Banjar Paketan. Kedua kelompok seni tradisional ini mempunyai keistimewaan dalam penampilannya. Dan tentu, dua keistimewaan yang dipentaskan dalam satu panggung ini membuat penontonya selalu riuh dengan tepuk tangan.

Sanggar seni Langen Kerthi Budaya menampilkan beberapa garapan, Tabuh kreasi Geger Tonggak Cemara Geseng, Tari Kakelik, Tari Kreasi Agni Krodha dan Tari Tenun gaya Desa Kedis. Sementara Sanggar Eka Wakya menampilkan Tabuh kreasi Pangkaja Tatwa, Tari Legong Tombol, Tari Kebyar Kamajaya dan Tari Palakwya Dangin Enjung.

Kepala Bidang Kesenian, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Wayan Sujana mengatakan gaya mebarung itu tak bisa dilepaskan dari semangat orang-orang Buleleng dalam kehidupansehari-hari. Termasuk, semangat untuk berkesenian.

“Pernah ada semacam semangat dari seniman-seniman di masa lalu, bahwa kalau sudah membuat  gong itu, bunyinya itu harus mampu merontokkan dedaunan pohon. Pokokne mare munyi don to jeg apang aas (baru berbunyi supaya daun berguguran). Nah itu kan semangat sebenarnya dari seniman kita dimasa lalu,’ terang Sujana.

Dari semangat masyarakat Buleleng yang dinamis, pergerakan kehidupan yang cepat dan selalu berkomitmen terhadap apa yang digarap akhirnya mempengaruhi gaya berkesenian di Buleleng, termasuk mebarung ini.

Gaya mebarung itu masih hidup, tak mati, kata Sujana. Karena mebarung itu mampu menumbuhkan jiwa penyemangat. “Walaupun ada orang yang tidak mengerti tabuh, tetapi ketka menonton sanggar yang mebarung, pasti akan ikut larut didalamnya.” tambahnya.

Tentang garapan yang ditampilkan, Sanggar Seni Langen Kerthi Budaya Desa Lokapaksa menampilkan Tari Tenun versi Desa Kedis. Versi Buleleng ini merupakan hasil asimilasi yaitu penggabungan dua kultur kebyar yang berbeda yakni tari Tenun gaya Bali selatan yang kemudian diperindah oleh seniman Ketut Merdana pada sisi musikalitasnya.  Tari Tenun ini menggambarkan kegiatan sehari-hari wanita Bali pada zaman dahulu.

Tari tenun ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa Bali memiliki kebudayaan dan kegiatan yang unik dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu juga berfungsi untuk melestarikan kebudayaan tenun-menenun yang ada di Bali. Tari tenun ini sangat identik dengan gerakan yang khas dari seorang penenun.

Pembina sanggar Langen Kerthi Budaya, Gusti Bagus Muliawan menjelaskan perbedaan Tari Tenun Buleleng dengan Tari Tenun lainnya terletak pada tabuh atau gamelannya.

Sementara dari sisi tarian, Tari Tenun Buleleng hanya menggunakan sanggul dan tidak menggunakan lelunakan atau riasan kepala seperti tari tenun versi Bali Selatan. “Jadi memang ada beberapa perbedaan tentang Tenun ini dengan gaya Bali selatan danBuleleng. Yang mencolok pada sisi aransemen tabuh,” kata Gusti Bagus Muliawan.

Selain menampilkan Tari Tenun, sanggar Langen Kerthi Budaya juga menampilkan Tabuh Kreasi Tunggak Cemara Geseng yaitu sebuah tabuh yang menggambarkan sejarah sebuah puri yang ada di Lokapaksa. Sementara Tari  Kakelik membawa pesan menjaga persatuan, kerukunan, dan ketertiban di kehidupan sehari-hari. Tari Kreasi Agni Krodha yang menceritakan pembalasan dendam Dewi Srikandi terhadap Bhisma. 

Sedangkan Sekaa Gong Eka Wakya sendiri menampilkan Tabuh Kreasi Pangkaja Tatwa yang menggambarkan pusaka kober  milik raja penguasa Denbukit Ki Barak Panji Sakti.  

Sementara dua tarian kekebyaran, Tari Legong Tombol dan Tari Kebyar Kamajaya merupakan kekebyaran gaya Buleleng yang selalu dinamis.

Tari Palawakya yang ditampilkan oleh Sekaa Eka Wakya mengisahkan seorang pujangga yang melantunkan ayat-ayat suci di depan tamu kerajaan. |NP|